Sabtu, 18 Agustus 2012

Jendela : Faktor-faktor penting pada pertumbuhan anggrek (bag.5 -habis)

Sahabat, tulisan ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan mengenai faktor-faktor penting  pada pertumbuhan anggrek. Selamat menyimak. 

7. Hama dan penyakit 

Anggrek seperti tanaman lainnya dapat diserang oleh hama dan penyakit yang berasal dari serangga, cendawan (fungus), bakteri dan virus. Hama dan penyakit dapat mengganggu pertumbuhan, bahkan pada serangan yang hebat dapat menyebabkan kematian pada tanaman.

Virus tidak dapat diobati, dan dapat menyebar ke tanaman lainnya. Jika tanaman terkena virus, jalan terbaik adalah memusnahkannya dengan cara dibakar.
Saran untuk pencegahan serangan hama dan penyakit :
  • Jaga kebersihan tanaman dan lingkungannya.
    Tanaman yang bersih akan mencegah timbulnya mikro-organisme.
    • Bersihkan umbi-akar, buang semua pelepah daun dan akar yang berwarna coklat sebelum ditanam. Sela2 pelepah daun dan batang dapat berpotensi sebagai sarang hama.
    • Rendam tanaman dengan desinfektan dan tanam pada media yang bersih.
    • Bersihkan semua peralatan kebun sebelum dan sesudah dipakai.
  • Mengendalikan kelembaban.
    Udara yang lembab diperlukan untuk pembentukan, pembiakan dan penyebaran cendawan. Dengan mengendalikan kelembaban akan menurunkan tingkat perkembangan cendawan.
    Pengendalian kelembaban yang disarankan adalah sbb :
a.    Tanaman dan bibit tanaman ditanam pada pot dengan bahan yang padat seperti plastik.
b.   Tingkatkan sirkulasi udara pada area tanam. Buang tanaman yang mati dan daun tua untuk mencegah area yang lembab.
c.   Buat area tanam agak menurun untuk membentuk sistim pengairan yang baik dan mencegah timbulnya genangan air.

                Lakukan penyemprotan pestisida secara berkala.
Pada musim kemarau perhatian lebih tertuju kepada serangan hama dan lakukan penyemprotan insektisida lebih sering jika diperlukan.
Di musim hujan perhatian lebih ditujukan pada bakteri dan fungus dan dapat dilakukan penyemprotan fungisida lebih sering.



Insektisida kimia seperti: Akothion, Decis, Kelthane, Supracide, Curacron dll dapat digunakan untuk membersihkan tanaman yang baru didapat atau bila serangan hama sudah terjadi.
Untuk mencegah bakteri dan fungus digunakan pula sterilant/disinfektan Physan 20, Dithane-M45 dan Benlate.
  
 Hama 

Seperti halnya jenis tanaman lainnya, anggrek juga dapat diserang oleh hama. Hama dapat berasal dari serangga biasa atau serangga berkulit lunak.
Terdapat beberapa jenis serangga yang sering menyerang anggrek yaitu :

  • Tungau (spider mite) :
    Serangga ini sangat kecil (0,2-0,3 mm) berwarna kemerahan jumlahnya banyak, menghisap cairan dan klorofil daun. Bekas serangan berupa lapisan putih mengkilat dibagian bawah daun dan akan berubah menjadi bercak hitam. Pada bagian atas daun akan terlihat bercak2 berwarna kuning dan pertumbuhan daun tidak baik (berkeriput) yang akhirnya bisa mematikan tanaman jika tidak segera dicegah. Serangan yang hebat terjadi pada waktu musim kemarau dimana udara kering. Karena cara makannya dengan menusuk daun maka berpotensi sebagai penyebar virus. Untuk mendeteksi hama ini adalah dengan mengusap daun menggunakan kapas/tissue, jika pada kapas terdapat warna kemerahan maka tanaman tersebut dihuni oleh tungau.
Pengendalian : Daun digosok dengan kapas dan air sabun atau alkohol 70%; apabila serangan sudah parah, harus disemprot dengan insektisida (Kelthane). Dengan meningkatkan kelembaban merupakan salah satu pencegahan dari serangan hama ini.
  • Kutu perisai (scale):
    Hama ini kecil (panjang 1-5 mm), menetap pada bagian bawah daun dan pada bagian dalam pelepah daun dan mengisap cairan daun sehingga akan mengganggu proses fotosintesis (metabolisme). Jenis anggrek cattleya adalah yang paling banyak diserang. Pada waktu mengisap cairan tanaman, juga mengeluarkan cairan manis spt madu shg ada kemungkinan kehadiran semut merupakan pertanda kehadiran hama ini. Daun yang terkena serangan akan berwarna kuning dan rontok sebelum waktunya.
Pengendalian : bersihkan daun dengan kapas/tissue dan air sabun, buang pelepah daun yang sudah mati. Karena hama ini mempunyai kulit seperti lilin maka insektisida-langsung akan kurang ampuh, lebih baik menggunakan insektisida-sistemik.
  • Kutu daun (aphid) :
    Hama ini berwarna hijau atau kuning seperti scale, menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan daun pada pucuk, tangkai bunga ataupun bagian tanaman lainnya yang menyimpan bahan makanan. Serangan berat menyebabkan daun-daun melengkung, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok. Karena mudah berpindah kutu daun ini tidak hanya menjadi hama tetapi juga dapat menjadi penyebar virus. Seperti kutu perisai, aphid juga mengeluarkan cairan manis spt madu yang dapat mengundang semut. Cairan manis ini akan ditumbuhi cendawan jelaga berwarna hitam sehingga menghambat proses fotosintesis. Pertumbuhan kutu daun ini tergantung dari suhu udara, akan berkembang lebih cepat pada musim kemarau.
Pengendalian : kutu daun ini mudah untuk dimatikan dan dibuang dari tanaman menggunakan semprotan air atau sikat, atau dapat pula menggunakan insektisida untuk hama ini, hanya hati-hati jika menyemprot bagian bunga, insektisida dapat merusak bunga.

  • Kutu putih (Mealybug) :
    Serangga ini mengeluarkan sejenis zat putih yang berlilin, berkapas putih yang menutupi keseluruhan badan lembut yang berwarna merah muda, menyebabkan ia kelihatan seperti debu putih. Dapat ditemukan pertemuan antara daun dan batang (buku-buku batang) dan diatas dan dibawah daun muda. Mereka menghisap sari dari tanaman, dimana dapat membuat tanaman menjadi layu. Seperti kutu perisai, kutu putih ini juga mengeluarkan cairan manis spt madu yang dapat mengundang semut.
Pengendalian : Seperti pada tungau, daun digosok dengan kapas dan air sabun atau alkohol 70%; apabila serangan sudah parah, harus disemprot dengan insektisida (Akothion). Telur serangga ini tidak mempan terhadap kebanyakan insektisida, maka semprot 2 minggu kemudian untuk membasmi telur yang baru menetas.
  • Thrips :
    Serangga ini sangat kecil (panjang 1 mm), menempel pada buku-buku batang, pada daun muda dan diatas putik bunga. Serangan hebat hama tersebut pada musim kemarau dengan memakan bagian dalam bunga atau putik bunga dengan mengorek sel pokok dan menghisap cairan makanan pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara masuk ke dalamnya dan cacat pada putik-putik bunga sehingga bunga tidak akan mekar dengan sempurna. Karena mudah berpindah dan dari cara makannya, serangga ini tidak hanya menjadi hama tetapi juga dapat menjadi penyebar virus.
Pengendalian : secara periodik dan teratur pot anggrek disemprot dengan insektisida kimia (Akothion, Supracide dll).
  • Whiteflies (lalat putih) :
    Serangga kecil ini berwarna putih, dapat terbang dan menyerang daun dengan mengisap cairan daun. Pada serangan yang berat daun menjadi kering, pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Untuk mendeteksi hama ini adalah dengan meletakkan benda berwarna kuning, karena warna kuning akan sangat menarik serangga ini untuk datang. Hama ini juga secara tidak langsung dapat sebagai penyebar virus.
Pengendalian : segera semprotkan insektisida yang bersifat racun kontak atau sistemik.

  • Kumbang gajah (orchid weevil) :
    Gejala : Kumbang ini berwarna hitam kotor/tidak mengkilap (panjang 3,5-7 mm) bertelur pada daun atau lubang batang tanaman. Kerusakan terjadi karena larvanya menggerek daun dan memakan jaringan di bagian dalam batang sehingga mengakibatkan aliran air dan hara dari akar terputus serta daun-daun menjadi kuning dan layu. Kerusakan pada daun menyebabkan daun berlubang-lubang. Larva juga menggerek batang umbi, pucuk dan batang untuk membentuk kepompong, sedangkan kumbang dewasa memakan epdermis/permukaan daun muda, jaringan/tangkai bunga dan pucuk/kuntum sehingga dapat mengakibatkan kematian bagian tanaman yang dirusak. Serangan pada titik tumbuh dapat mematikan tanaman. Pada pembibitan Phalaenopsis sp. dapat terserang berat hama ini. Serangan kumbang gajah dapat terjadi sepanjang tahun, tetapi paling banyak terjadi pada musim hujan, terutama pada awal musim hujan tiba.
Pengendalian : menyemprotkan tanaman yang diserang dengan menggunakan insektisida sistemik secara rutin; bersihkan pot dari kepompong dan telur kumbang dengan jalan memindahkannya ke pot baru dan media tanam yang baru pula.
  • Semut :
    Semut merupakan hama yang tidak secara langsung merusak anggrek. Cendawan yang dibawa oleh semut merusak akar dan tunas muda. Kehadiran semut juga dapat sebagai tanda/indikasi adanya hama lainnya seperti scale, aphid atau kutu putih karena hama-hama tersebut mengeluarkan cairan manis yang disukai semut.
Pengendalian : pot direndam dalam air, basmi hama (scale, aphid atau kutu putih) yang mengeluarkan cairan manis tersebut dengan insektisida dan ciptakan lingkungan bersih di sekitar lokasi tanaman.
  • Belalang :
    Gejala : pinggiran daun rusak dengan luka bergerigi tak beraturan dan berwarna hitam. Untuk jenis belalang berukuran kecil, perlu pengamatan cermat.
Pengendalian : segera semprotkan insektisida yang bersifat racun kontak atau sistemik; bila jumlahnya sedikit bisa langsung dimusnahkan/dibunuh.
  • Keong, siput, bekicot:
    Gejala : memakan lembaran daun dan keluar pada malam hari.
Pengendalian : dalam jumlah sedikit cukup diambil/dibunuh; bila jumlah banyak perlu memakai insektisida.
Tanaman sakit adalah setiap penyimpangan dari keadaan normal yang ditunjukkan dengan penghambatan atau gangguan dari aktivitas fisiologis atau perubahan struktural yang dapat menghambat pertumbuhan, menyebabkan bentuk tanaman yang abnormal, menyebabkan susunan bagian tanaman yang berbeda, menyebabkan kematian bagian tanaman atau seluruh tanaman sebelum waktunya.
Penyebab penyakit dapat digolongkan sebagai berikut :
  • Golongan jasad hidup: cendawan, bakteri, mikroplasma, algae, (ganggang), tanaman golongan Phanerogami dan Netmatoda.
  • Golongan virus. Penyebab dari golongan virus ini belum dapat dipastikan apakah termasuk golongan jasad hidup atau bukan hidup.
  • Golongan bukan jasad hidup. Golongan ini meliputi kekurangan atau kelebihan zat hara, cahaya, aerasi, sifat tanah, keadaan iklim, dan faktor lingkungan lainnya.
Cendawan (fungus) dan bakteri

  • Busuk hitam (black rot) :
    Mungkin ini adalah penyakit paling merusak yang menyerang tanaman anggrek dan Cattleya adalah yang terbanyak.
    Penyebab: cendawan Pythium ultimum.
    Gejala:
    • Biasanya pertama yang diserang adalah daun atau anakan baru. Kemudian menjalar ke rhizome sampai akhirnya ke akar.
    • Daerah daun yang terinfeksi terdapat bercak berwarna coklat dan dikelilingi oleh warna kuning, kontras dengan bagian daun lainnya yang berwarna hijau.
    • Daerah pangkal daun yang terinfeksi berwarna kehitaman lalu melunak, jika ditekan akan mengeluarkan cairan.
    • Proses pembusukannya cepat.
    • Pada akar awalnya menjadi keriput, kemudian warnanya berubah menjadi coklat tua dan akhirnya putus.
Penanggulangan :
    • Bagian tanaman yang terinfeksi dipotong sampai batas area yang bebas dari penyakit dengan alat yang steril.
    • Celupkan tanaman pada fungisida dan keringkan sebelum di tanam kembali.
    • Cara terbaik menghindari Black rot adalah dengan menjaga agar tanaman dan sekelilingnya tidak terlalu basah.
    • Pupuk dengan calcium yang tinggi akan mencegah black rot pada anakan baru.
    • Untuk pengendaliannya dapat menggunakan fungisida seperti : Baycor, Dithane M-45, Benlate, Ferban, Physan, Truban atau Banrot.
  • Busuk coklat (brown rot) :
    Penyebab: cendawan Sclerotium Rolfsi.
    Gejala:
    • Biasanya penyakit ini menyerang Paphiopedilum.
    • Mulanya adalah noda air yang kecil karena air menempel pada daun dalam beberapa waktu, kemudian akan menyebar dengan cepat dan daun berubah warna menjadi coklat tua.
    • Ini terjadi jika terdapat pot tanaman diatas tanaman tersebut dimana air menetes turun dan menetap pada tengah daun.
    • Suhu dan kelembaban yang tinggi adalah kondisi penunjang timbulnya penyakit ini.
    • Daun yang patah atau terluka adalah tempat awal penyebarannya.
Penanggulangan :
    • Potong daun jika terdapat warna coklat sperti bubur pada dasar daun dengan gunting yang steril.
    • Jika penyakit sudah parah, bagian tanaman yang terkena harus dipotong dan dimusnahkan.
    • Rendam
    • Tanaman dan pot didesinfektan dengan larutan formalin 4 % atau fungisida/antibiotik Natriphene 0,5 % selama 1 jam.
  • Busuk pucuk batang (crown rot) :
    Penyebab: bakteri Erwinia Cartovora.
    Gejala:
    • Menyerang phalaenopsis, menyebabkan kerusakan dan busuk pada akar, umbi batang dan daun.
    • Proses pembusukan daun umbi batang dan akar yang terinfeksi sangat cepat (hanya dalam waktu 1-2 hari), tetapi penyebaran ke tanaman lainnya agak lambat.
    • Penyakit ini biasanya timbul karena sirkulasi udara tidak begitu baik pada kelembaban yang tinggi (mis. setelah terkena hujan pada malam hari).
Penanggulangan:
    • Tanaman yang terinfeksi harus dipisahkan dari tanaman yang sehat.
    • Bagian yang terinfeksi dipotong dan dibuang.
    • Rendam semua bagian tanaman dan pot dengan fungisida (Captan, Dithane M-45, atau Physan 20).
    • Peralatan kebun harus steril.
  • Busuk akar (root rot) :
    Penyebab: cendawan Rhizoctonia Solani.
    Gejala :
    • Akar membusuk dan menjalar ke rhizoma dan umbi batang.
    • Daun dan umbi batang menguning, berkeriput, tipis dan bengkok mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan tidak sehat.
Penanggulangan :
    • Semua bagian tanaman yang terjangkit dipotong dan dibuang
    • Bekas potong disemprot dengan fungisida (Benlate).
  • Bercak coklat (Brown spot) :
    Penyebab : bakteri Pseudomonas cattleyae.
    Gejala:
    • Biasanya menyerang phalaenopsis dan paphiopedilum.
    • Terdapat bercak coklat, lunak dan berair pada permukaan daun, lalu menyebar keseluruh bagian tanaman.
Pengendalian :
    • Potong semua bagian yang yang terinfeksi dengan alat yang steril.
    • Rendam tanaman dengan natriphene atau Physan selama kira2 1 jam.
    • Semprotkan fungisida/ antibiotika Streptomycin atau Physan 20.

Virus
Tidak ada cara pengobatan terhadap virus, hanya bersifat pencegahan agar tidak menular pada tanaman lainnya. Sekali tanaman terkena virus, maka selamanya tanaman tersebut terinfeksi, oleh sebab itu sebaiknya tanaman tersebut dimusnahkan.



  • Cymbidium Mosaic :
    Penyebab: virus Cymbidium Mosaic.
    Gejala :
    • Sebenarnya penyakit ini salah nama, karena dapat menyerang semua jenis anggrek.
    • Awalnya terdapat bintik2 kekuning2an sebagai akibat adanya sel yang mati, kemudian menjadi menghitam dan cekung.
    • Bercak biasanya bulat biasa, kadangkala membentuk belah ketupat pada daun.
    • Pada cattleya dan phalaenopsis ditandai dengan bercak ke-unguan, kemudian menjadi coklat juga setelah beberapa minggu. semula berupa bercak kekuningan lalu muncul jaringan mati berbintik, bergaris atau lingkaran.
    • Pada daun yang sudah tua terdapat banyal bintik2 sebagai akibat terdapat jaringan yang mati.
Pengendalian :
    • Potong dan membuang bagian tanaman yang terinfeksi.
    • Menstrerilkan semua alat potong dan alat lain untuk tanaman.
  • Bercak bercincin (TMV) :
    Penyebab: virus TMV (Tobacco Mosaic Virus).
    Gejala :
    • Timbul lingkaran atau garis-garis kekuningan pada permukaan daun.
    • Gejala lainnya hampir sama seperti Cymbidium Mosaic diatas.
Pengendalian :
    • Potong dan membuang bagian tanaman yang terinfeksi.
    • Menstrerilkan semua alat potong dan alat lain untuk tanaman.
    • Perokok tidak boleh menangani tanaman sambil merokok.

Sumber :sebagian besar dari  anggrek info.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagi semua pembaca silakan memberikan komentar atau pertanyaan yang berkaitan dengan blog ini. Terimakasih.